Langsung ke konten utama

Aku Rindu

Aku rindu bersenda gurau dengan kabut yang menutupi sebagian pandanganku
Aku rindu menatap langit dari celah hutan rimbun yang menjadi atap bagi rumahku saat itu
Aku rindu menapaki tanah basah yang menempel di sepatuku
Aku rindu wangi khas daun yang terhirup masuk ke sistem pernapasanku

Rindu yang menggandengku untuk bisa kembali menjejaki rumahnya lagi
Rindu yang membalut tubuh untuk terlelap di hamparan rumputnya lagi
Rindu yang memaksa masuk ke dalam paru-paru untuk bisa menghirupnya lagi
Rindu yang menelusuri setiap jengkal aliran pembuluh nadi

Aku ingin kembali berjalan
Menatap setiap helai daun yang jatuh
Merenung disetiap derap langkah kaki
Mencoba menjamah langit meski hanya sebuah ilusi
Tertawa meski lara kerapkali memeluk erat
Dan kembali pulang setelah dahaga terlampiaskan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Awal Kisah di Gunung Sibayak : Perjalanan Berbuah Candu

"Bahagia... Bahagiaku cukup sederhana..." Begitulah sekiranya sepenggal lirik Puisi Alam milik Fourtwnty. Barangkali itu yang bisa menjelaskan perasaan saya saat mulai mencintai alam. Pertamakali saya mencoba menjejaki alam dengan mendaki sebuah bukit di Sumatera Utara, bukit gajah bobok. Kali pertama, rasa takut dan khawatir menyergap seolah mengurung saya untuk tidak pergi dan mundur dari kesempatan ini, namun demi sebuah ambisi yang telah lama terpendam, rasa takut itu berani untuk saya lawan. Awal dari sebuah perjalanan menuju ke perjalanan lain. Semangat saya mulai terbakar untuk mencoba pendakian ke sebuah gunung di Sumatera Utara. Gajah Bobok, Sumatera Utara Menikmati alam dari balik tenda Pendakian selanjutnya saya lakukan di Gunung Sibayak. Sebuah gunung di Sumatera Utara dengan ketinggian 2.212 mdpl. Gunung Sibayak, ya, untuk pertamakalinya saya mendaki sebuah gunung sungguhan. Rasa khawatir kembali menghampiri saya, namun semuanya saya law...

Gunung Sibuatan Part 3 : Puncak Bukan Segalanya

Melanjutkan kisah sebelumnya... Saya dan Zahra berdiam diri, membaca banyak doa sembari berpegangan tangan untuk menghangatkan jari-jari kami yang mulai terasa membeku. Dalam sunyi malam saat itu, kami hanya bisa berharap teman-teman kami yang lain dapat segera menyusul kami. Sesekali suara kehidupan dari atas sana terdengar dan sesekali kami coba untuk memanggil meski hasilnya tetap nihil. Tidak ada satupun yang dapat mendengar kami. Zahra kembali menyenteri jalur yang baru saja kami lalui, masih gelap, tak ada satupun bayangan manusia yang terlihat. Lagi-lagi hanya suara angin dan lantunan Ayat Suci Al-Qur'an yang terdengar dari handphone milik Zahra. Tangan kami masih terus berpegangan, bahkan semakin erat. Malam itu kami mungkin telah pasrah, namun masih tetap berdoa dalam hati agar tetap kuat sampai akhirnya bisa berkumpul kembali bersama teman-teman kami. Dengan udara yang semakin dingin menusuk tulang dan peralatan kami yang seadanya, kami sadar bahwa s...

Pelajaran dari Sebuah Kisah : Perjalanan Untuk Mengenal-Nya

Perjalanan yang baik adalah perjalanan yang mampu memberikan banyak hikmah di dalamnya. Bukan hanya sekedar memanjakan mata, mengenyangkan perut dan memuaskan batin, namun lebih dari itu, sebuah perjalanan bisa menghadirkan berbagai macam pembelajaran tentang arti dari hidup yang sejati.  Saya telah beberapakali melakukan perjalanan bersama beberapa teman, memang belum banyak perjalanan yang saya lakukan, namun cukup berkesan dan membuat rindu untuk kembali melangkah mengukir kisah lain. Perjalanan menjelajahi alam memang selalu menjadi favorit untuk saya. Kenapa? Karena dengan menjelajahi alam mampu menghadirkan rasa takjub, rasa peduli dan tentunya rasa syukur. Perjalanan mewah memang menarik dan memberikan rasa nyaman, namun entah mengapa, hati saya telah jatuh cinta dengan keadaan tidur di tempat terbuka, beralaskan matras, dilindungi oleh tenda dan dikelilingi oleh pohon-pohon serta diiringi dengan suara angin, air laut, air sungai ataupun jangkrik-jangkrik yang seolah ...