Langsung ke konten utama

Keajaiban Doa Itu Nyata...



Kali ini saya berkisah bukan tentang alam, saya akan menceritakan bagaimana doa mampu merubah jalan hidup manusia, bagaimana doa mampu menjadi penguat untuk menghadapi kerasnya hidup, bagaimana doa mampu membolak-balikkan hati manusia.

Dimulai dari sebelum saya berhijrah. Hidup saya bisa dikatakan baik-baik saja, semua masalah hanyalah seputar sekolah dan permasalahan adik dan kakak ketika dirumah. Saya bukan orang yang ambisius, saya bukan orang yang punya semangat menggebu dalam mengejar apa yang saya mau dan saya bukan orang yang taat dalam beribadah, saya hanya orang yang biasa. Tapi suatu hari ketika saya baru saja duduk di bangku SMA, Allah mempertemukan saya dengan seorang teman, entah bagaimana caranya saya seketika menaruh kepercayaan terhadapnya untuk menceritakan seluruh keluh kesah saya. Teman itu bukan orang yang saya kenal sebelumnya, tapi mungkin ini adalah cara Allah untuk mengenalkan dan menunjukkan kepada saya tentang hidup yang sebenarnya. Seiring berjalannya waktu saya dan dia menjadi semakin dekat, bahkan menjadi sepasang sahabat. Saya merasa senang bisa mengenalnya, dia adalah orang yang ambisius, dia orang yang mempunyai mimpi, dia adalah orang yang mengenalkan saya dengan pentingnya beribadah. Saya dan dia adalah sepasang sahabat yang bisa dibilang telah mengerti satu sama lain, kami saling menyampaikan keluh kesah tentang masalah kami masing-masing, dia adalah orang yang membuka mata saya bahwa hidup itu tidak mudah, hidup itu keras, hidup itu terkadang tak bisa berjalan sesuai dengan apa yang kita mau.

Singkat cerita, masalah mulai muncul ke kehidupannya. Masalah yang menyambanginya tidak mudah, mulai dari perceraian orangtua, masalah ekonomi, ditinggal oleh orang-orang yang disayang, harus melepaskan mimpi yang selama ini ingin diraihnya, kehilangan kasih sayang seorang ayah, semuanya terdengar sangat sulit bagi saya. Masih teringat jelas dikepala saya bagaimana kami sama-sama menangis ketika dia menghadapi masa-masa terberatnya, membuat hati saya tersayat meski saya tak pernah mengalaminya. Satu pelajaran yang bisa saya ambil darinya, berdoa adalah penguat bagi seluruh masalah yang hadir dalam hidupnya. Jalan hidup memang tidak pernah lurus, kadang berat menanjak layaknya mendaki gunung, kadang curam menurun membuatmu terperosok jatuh, namun ketika kita berdoa, kita tetap mempunyai tongkat untuk membantu kaki terus berjalan seberat apapun jalurnya.

Sampai akhir dari cerita tentangnya, kini saya melihatnya telah bahagia, benar adanya ketika kita tak pernah bosan untuk berdoa, Allah yang akan menghilangkan masalah kita satu persatu. Allah telah mengganti seluruh masalah itu dengan mengirimnya seorang laki-laki baik dan bijaksana, laki-laki yang mampu membahagiakannya dan melenyapkan seluruh kesedihan yang ada. Mungkin masalah itu belum seluruhnya terselesaikan, namun luka-luka dari masa lalu telah sedikit demi sedikit mengering dan tak lagi terasa nyeri. Semua karena adanya kekuatan dari doa, doa yang mampu menguatkan, doa yang mampu melunturkan setiap masalah yang ada, hanya dengan doa.

Berbeda dari cerita sahabat saya, saya sendiri telah merasakan bagaimana kekuatan doa itu memang benar dan nyata. Saya belumlah sempurna dalam berhijrah, saya belumlah mampu untuk beristiqomah, namun saya berani bercerita bahwa kisah ini yang bisa membuat saya terenyuh dan berterimakasih terhadap saya dan seluruh masalah saya yang dulu. Jauh sebelum saya akhirnya berhijrah, didalam lubuk hati saya ada perasaan dan keinginan untuk bisa berubah menjadi lebih baik namun kesenangan dunia telah membuat saya mengubur keinginan saya tersebut. Beberapakali saya bermimpi tubuh saya terbalut dengan pakaian syar’i, beberapakali hati saya bergetar melihat wanita-wanita dengan pakaian syar’inya berjalan anggun menuju masjid, saya hanya bisa melihat dan bergumam dalam hati “Kapan saya bisa seperti mereka?”, tapi saya menganggap gumaman yang saya ucapkan dalam hati bukanlah hal yang serius. Waktu demi waktu saya lewati hanya dengan kesenangan dunia, shalat hanya sekedar untuk menjalankan kewajiban bahkan kadang saya meninggalkannya, saya terkadang hanya shalat ketika ada hal yang saya harapkan supaya Allah memperlancar semuanya, Al-Qur’an tidak pernah sekalipun saya sentuh, saya hanya menyentuhnya ketika kegundahan dan kegelisahan memasuki hati saya, lisan yang sejatinya mampu memasukkan manusia ke neraka juga tidak pernah saya jaga. Mungkin hati saya sedikit demi sedikit telah mati, tidak ada keresahan dalam diri saya ketika saya tidak beribadah, saya telah tersesat.

Jalan hidup manusia memang tidak pernah ada yang tahu, Allah telah mendengar apa yang sering saya gumamkan dalam hati. Mungkin saya sendiri sudah melupakannya, tapi Allah dengan kebesaran-Nya mengingatkan saya dengan suatu peristiwa yang sampai sekarang membuat saya bersyukur pernah menghadapinya. Allah telah menegur saya lewat tajamnya lisan saya. Karena lisan ini, saya telah membuat banyak orang terjebak dalam kesulitan, karena lisan ini membuat orang-orang mungkin membenci saya, karena lisan ini, saya telah memberikan luka untuk seseorang. Dari masalah yang satu, timbul masalah yang lain, satu persatu orang yang dekat mulai menjauh. Semua terjadi tiba-tiba, semua terjadi sangat cepat, Allah memberikan semuanya, lalu seolah-olah Allah mengambil semuanya, sampai yang bisa saya lakukan hanya berdoa memohon pengampunan dan meminta pertolongan dari-Nya.

Begitu apik Allah mengemas semuanya, lagi dan lagi, dalam kepenatan menghadapi beberapa masalah yang cukup mengganggu tidur saya, Allah mempertemukan saya dengan seorang teman. Teman yang sederhana dan rendah hati, yang kembali membuka mata saya dan menggerakkan hati saya untuk mulai mendekat pada Sang Pencipta. Dari waktu ke waktu saya merasakan ketenangan dan keinginan untuk berhijrah itu kembali menyapa saya. Suatu hari saya menatap diri saya sendiri didalam cermin, saya balutkan khimar itu dikepala saya, entah mengapa saya merasa bahagia melihatnya, seketika saya mengingat apa yang dulu saya ucapkan dalam hati “Kapan saya bisa seperti mereka?”, mungkin ini jawaban dari-Nya, mungkin ini saatnya untuk saya berubah.

Ketika pada akhirnya saya memutuskan untuk berubah menjadi lebih baik, saya mulai berdoa pada Allah agar saya diberikan kekuatan untuk istiqomah. Dalam setiap doa yang saya panjatkan, saya selalu meminta untuk didekatkan dengan orang-orang yang juga berproses untuk menjadi hamba-Nya yang lebih baik. Dengan berjalannya waktu saya belajar dan berproses, kembali, entah bagaimana caranya, Allah mengabulkan doa saya dengan cara-Nya yang tak terduga. Saya dipertemukan dengan orang-orang yang selama ini tidak pernah saya kenal, tidak pernah saya bayangkan bisa berkumpul bersama mereka, orang-orang yang dulu sempat saya panjatkan dalam setiap doa-doa saya. Sangat manis, begitu saya katakan tentang bagaimana Allah mengabulkan doa-doa saya dengan cara-Nya yang luar biasa.


Mungkin kisah saya dan sahabat saya tidak sehebat kisah-kisah para motivator ataupun tokoh-tokoh hebat yang ada di luar sana, tapi dari kisah ini saya ingin menyampaikan bahwa setiap apa yang kita inginkan, yang kita harapkan, yang kita ucapkan, sadar ataupun tidak, bisa jadi itu adalah sebuah doa yang suatu hari nanti Allah akan mengabulkannya dengan skenario-Nya yang indah. Kalau saja diri ini belum merasakan bagaimana hebatnya kekuatan doa, maka perhatikan orang-orang di sekitar kita, barangkali tanpa kita sadar Allah sedang menunjukkan hebatnya kekuatan doa kepada kita melalui orang-orang tersebut.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gunung Sibuatan Part 1 : Perkenalan Yang Menyakitkan

  16 Februari 2018, merupakan hari pertama saya menginjakkan kaki di Gunung Sibuatan, Sumatera Utara. Berawal dari seorang teman yang bertanya kepada saya tentang detail lokasi dan keadaan Gunung Sibuatan, lama-lama berakhir dengan ajakan mendaki bersama. Gunung Sibuatan terletak di Desa Nagalingga, Kab. Karo dan merupakan gunung tertinggi di Provinsi Sumatera Utara dengan ketinggian 2.457 mdpl. Singkat cerita setelah semalaman menginap di kost teman di Kabanjahe, saya, sahabat saya Zahra dan tiga orang lainnya yaitu Apis, Iqmal dan Insan berangkat menuju Desa Nagalingga dengan menggunakan tiga buah sepeda motor. Beberapa hari sebelum kami berangkat, seperti biasa kami membuat group chat untuk membahas bagaimana keadaan tempat yang akan kami tuju, apa saja kendala yang akan dialami, waktu untuk mencapai tempat tersebut, masalah transportasi, logistik dan hal-hal lain yang harus dipersiapkan sebelum pergi. Dari kesepakatan, kami seharusnya berangkat pagi-pagi sekitar j...

Awal Kisah di Gunung Sibayak : Perjalanan Berbuah Candu

"Bahagia... Bahagiaku cukup sederhana..." Begitulah sekiranya sepenggal lirik Puisi Alam milik Fourtwnty. Barangkali itu yang bisa menjelaskan perasaan saya saat mulai mencintai alam. Pertamakali saya mencoba menjejaki alam dengan mendaki sebuah bukit di Sumatera Utara, bukit gajah bobok. Kali pertama, rasa takut dan khawatir menyergap seolah mengurung saya untuk tidak pergi dan mundur dari kesempatan ini, namun demi sebuah ambisi yang telah lama terpendam, rasa takut itu berani untuk saya lawan. Awal dari sebuah perjalanan menuju ke perjalanan lain. Semangat saya mulai terbakar untuk mencoba pendakian ke sebuah gunung di Sumatera Utara. Gajah Bobok, Sumatera Utara Menikmati alam dari balik tenda Pendakian selanjutnya saya lakukan di Gunung Sibayak. Sebuah gunung di Sumatera Utara dengan ketinggian 2.212 mdpl. Gunung Sibayak, ya, untuk pertamakalinya saya mendaki sebuah gunung sungguhan. Rasa khawatir kembali menghampiri saya, namun semuanya saya law...

Gunung Sibuatan Part 3 : Puncak Bukan Segalanya

Melanjutkan kisah sebelumnya... Saya dan Zahra berdiam diri, membaca banyak doa sembari berpegangan tangan untuk menghangatkan jari-jari kami yang mulai terasa membeku. Dalam sunyi malam saat itu, kami hanya bisa berharap teman-teman kami yang lain dapat segera menyusul kami. Sesekali suara kehidupan dari atas sana terdengar dan sesekali kami coba untuk memanggil meski hasilnya tetap nihil. Tidak ada satupun yang dapat mendengar kami. Zahra kembali menyenteri jalur yang baru saja kami lalui, masih gelap, tak ada satupun bayangan manusia yang terlihat. Lagi-lagi hanya suara angin dan lantunan Ayat Suci Al-Qur'an yang terdengar dari handphone milik Zahra. Tangan kami masih terus berpegangan, bahkan semakin erat. Malam itu kami mungkin telah pasrah, namun masih tetap berdoa dalam hati agar tetap kuat sampai akhirnya bisa berkumpul kembali bersama teman-teman kami. Dengan udara yang semakin dingin menusuk tulang dan peralatan kami yang seadanya, kami sadar bahwa s...